bloq o’ me-Let’s Go Green

April 14, 2006

Kupu-kupu

Filed under: cer!ta tentang...

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung.
Tatapan matanya kosong,menatap hamparan air di depannya.
Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain
disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" Tanya seseorang.

Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?"

Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya?
Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya.
Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.

Mereka berpandangan. "Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satuarah, taman.
Tak berapa lama, dijumpainya taman itu.
Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemudayang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan.

Namun lagi-lagi.
Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan.
Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.
Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah."

Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?"
Sang Kakek menatap pemuda itu.
"Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari.
Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan.
Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

***

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu.

Sulit…bagi mereka yang terlalu bernafsu.
Namun mudah…bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari.
Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan.

Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu.
Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati.
Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita.
Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu.
Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita.
Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Bahagia itu ada dimana-mana…. Rasa itu ada di sekitar kita.
Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya.
Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Anatomy of a True Friend

Filed under: cer!ta tentang...

Eyes:
Will always see you for the way you really are, your true self.
 

Ears:
Will always have them open to listen.

Mouth:
To always tell you the truth and give opinion, tell you when you mess up or do something good.

Shoulders:
Will offer when you need one to cry on and will be your strength when you find it hard to carry yourself. Will always let you lean on them.

Heart:
To love you for who you are and not judge. Will always have a place there for you.

Hands:
To hold yours when you need a little guidance, to lend when you need help, and to help you up when you may fall.

Arms:
Will always make you feel comfortable in them and to offer hugs when you need one. Will try to warm when you are cold.

Feet:
To walk with you throughout your life and be the best friend they can be.

 

Risalah Hati Seorang Kekasih

Filed under: cer!ta tentang...

Dia seorang kekasih.
Dia tertawa diwaktu itu
Dia bahagia juga diwaktu itu.

Harapnya indah penuh cinta.
Lalu ia berkata :     
    "Hidupku tanpa cintamu Bagai malam tanpa bintang     
    Cintaku tanpa sambutmu Bagai panas tanpa hujan"

Banyak cinta berjuta rasa.
Meski jarak, waktu dan ruang memisahkanya, tapi hati tetaplah hati.
Apalah arti jarak, waktu dan ruang, jika rasa memang ada.
Hanya cukup menunggu.

    "Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa".

Tapi apa dia datang, apa dia pergi hanya cinta yang tau.
Kembali kekasih ini berkata

     "Simpan mawar yang ku beri           
     Sebelum kau ludahi aku
     Sebelum kau robek hatiku "

Meski berat hati, kekasih ini pun pergi.
Mungkin takkan kembali.
Apalah arti jika nasi pun bisa menjadi cair.
Lama waktu yang ditunggu, separuh jalan yang terlewati.
Terhenti ditengah jalan.
Lalu kekasih berkata:

    "Terima kasih atas cinta, jagalah dirimu baik-baik.
     Sayangku slalu menyertaimu".

Lalu kekasih itu menghilang entah kemana.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham